... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Selasa, 10 Desember 2013
SALON SPIDERMAN
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Senin, 09 Desember 2013
Smart Shopper
... baca selengkapnya di ATUR KEUANGAN Rencana Finansial Nomor 1
Minggu, 08 Desember 2013
KARET GELANG
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Rabu, 04 Desember 2013
BATU UNTUK DILEMPARKAN
Banyak orang berpikir bahwa sebuah film dengan aktor utamanya adalah seorang “idiot” pasti akan disambut secara dingin oleh pemirsa. Forrest Gump justru sebaliknya.
Tom Hanks muncul melakonkan seorang pemuda yang bernama Forrest Gump, mengisahkan tiga puluh tahun kehidupannya, dan ia senantiasa muncul sebagai “pemenang” dalam setiap kejadian besar yang berhubungan dengan sejarah Amerika jamannya. Ia muncul sebagai pemain American football, tampil sebagai pahlawan dalam perang Vietnam, ia menjuarai turnament ping pong internasional. Ia adalah pahlawan yang bertemu dan disambut hangat oleh dua presiden Amerika John F. Kennedy dan Richard Nixon. Ia juga tampil perkasa dalam Watergate Scandal.
Di samping Forrest, terdapat pula bintang utama lain dalam film ini yakni Jenny yang merupakan satu-satunya teman Forrest di samping ibunya. Dalam perkembangan selanjutnya, Jenny menjadi orang yang dicintai Forrest. Dalam salah satu adegan, setelah ayahnya meninggal Jenny kembali ke rumah l....
Kumpulan Inspirasi dan Motivasi Nomor #1
Kumpulan Inspirasi dan Motivasi Nomor #1
Minggu, 29 September 2013
SELEPAS KAU PERGI, ADA DAMAI DI SINI
Pukul
15.45, handphone bergetar. 1 message received. Biasa, dari wanita
idaman yang SEJAK LAMA kunobatkan sebagai cinta pertama. Dalam nomor kontak,
tertulis namanya: “Aaaaa @ mama”.
Setiap kali dikirimi SMS oleh someone
special ini, seringkali saya enggan berlama-lama dan pasti bersemangat
untuk segera membacanya. Sebab, dalam SMS-nya tak lupa ia senantiasa selipkan
wejangan penyemangat agar tak lupa mendekatkan diri kepada Sang Empunya
Kehidupan. Sedikit mendidik dan religius, tentu saja.
Bunyi
SMS-nya begini:
“Selamat sore Kraeng, neka hemong ngaji
latang’t weta ata cucu. Ai diang de genap enem ntaung hia lako ngger le Surga.
Eme toe de, ho’o wa’u sekolah hia ga. Nana, aku leng nuk hi enu Eta dite ye…”
(Mungkin
begini terjemahan bebasnya: “Selamat sore, Mas. Jangan lupa doakan arwah si
bungsu. Karena esok genap enam tahun ia berziarah ke Surga. Kalau tidak,
sekarang dia sudah masuk Sekolah Dasar. Mas, mama rindu nona Eta kita…..”)
Bahasa
yang sangat sederhana, miskin ngalor-ngidul, To the Point. Tak salah ia memilih bahasa Manggarai untuk
menyampaikan pesan ini. Bahasa sederhana, tradisional, namun mampu menyentuh
lubuk hati terdalam. Sebab, aku dahulu lahir dari pemilik rahim yang berbahasa
tradisional itu. Ternyata, bahasa turut memengaruhi psikis.
Untuk
Mama, kutaruh rasa simpatik yang penuh. Seorang wanita bertaburan sedikit
helaian uban pada mahkota kepalanya sedang mengenang kepergian buah hatinya.
Eta adalah salah satu buah tubuhnya yang telah pergi enam tahun silam. Untuk
mereka yang pergi selamanya dan bukan buah tubuhku, aku butuh waktu melepas
mereka dalam ketulusan. Bisa jadi, selepas enam tahun, Ibu belum menemukan ketulusan
dalam melepaskan. Itulah alasan mengapa aku memberikan rasa simpatik dan empati
yang maksimal.
Saat
ini, aku paham bahwa Ibu sungguh memiliki buah tubuhnya. Buah tubuhnya adalah
tubuhnya. Tentu Ibu tak sudi jika tubuhnya atau sebagian hatinya pergi dan tak
pernah kembali. Buah hatinya pasti tak tergantikan. Memoar-memoar indah bersama
buah tubuhnya cukup menjadi pereda pilu kepedihan selepas kepergian. Tapi ini
tak abadi, kehilangan tetaplah kehilangan.
***
SMS
senja ini cukup mencuri perhatian. Selanjutnya, aku terhanyut dalam kenangan
pilu 2007 lalu—saat mendengar berita kepergian si bungsu—. Kala itu aku sedang
menjalani masa postulat Fransiskan di kota Gudeg, Jogjakarta. Sembari
mengenang, kuraih kembali diari edisi lama, tampaknya kumal dan dekil. Mungkin
karena kurang diakrabi. Masih tercatat rapih sederet kata pisah untuk dia yang telah
pergi sebelum fajar merekah di ufuk timur. Benar, ia yang tak pernah kujumpai,
telah tiada.
Jogja,
28 September 2007
Kemarin,
27 September, tepat pada peringatan Santo Vincentius a Paulo. Ingin ku-tari-kan
pena biru di atas lembar bergaris. Tapi aku belum mampu putuskan, entah huruf
pertama apa yang akan kulukis dalam memulai kisah sendu kepergian si bungsu.
Bahkan, sore kemarin, kubuka diari ini tanpa ingin menulis. Berjam-jam
kubolak-balikan lembaran-lembaran ini. Sepertinya, pikiran dan jari belum
sepakat menentukan tujuan.
Sekarang,
aku sedikit tenang untuk merangkai deretan kata pisah:
Perasaan
ini sangat dalam,,,,,,
Dikau
datang tanpa mengenal dunia,
pun
pergi dengan tidak sempat memahami dunia.
Datang
dan pergi ibarat bayang yang tak mampu kurangkul.
Hanya
sedikit mampu bergumam: “Engkau pernah ada—di antara kami—“
Kehilangan
yang mendalam,,,,,,,
Terbayang
kini,
jika
musim kemarau tiba pasti aku kembali, sejenak.
aku
sangat lemah dalam menahan tangis,
saat
menemukanmu dalam wujud pusara.
Dengan
tulisan “ R I P ” pada bentangan salib
yang
mereka letakkan pada ujung atas jenazahmu,
mudah-mudahan
cukup meyakinkankan diriku jika kepergianmu sungguh
MENDAMAIKAN…
Requiescat
in Pacem: Adik Vincentia
Marietta Ngabur….
***
Akhirnya,
kami senantiasa sadar bahwa memang kepergianmu sungguh mendamaikan. Damai dalam
segala hal. Terima kasih dan syukur karena pernah hadir—di antara
kami—senantiasa.
GOD,
I miss her so damn !!!
Sabtu, 21 September 2013
JUJUR ITU MELEGAKAN !!!!
Tatkala kau meletakkan cinta, kebetulan pada tempat yang salah..
pasti sempat kau tanya, Salahkah jatuh cinta kala itu?
TIDAK, jawabannya.
kita hanya dipertemukan pada masa yang kurang tepat,
momen yang salah ....
Tentu kau ingat sungguh, saat geloranya sedang memuncak...
air mata jatuh tanpa alasan,,,,
tak jarang sedih mendera begitu cepat menggantikan gembira...
Kau mendadak perhatian pada hal-hal sepele...
sibuk memberikan nasihat-nasihat yang kurang perlu....
Kadang tampil maksimal menggantikan sosok ibu,
sang pemilik rahim yang pernah membentukku sembilan bulan ..
Semua ketulusan dalam mencinta senantiasa bertepuk sebelah tangan, akhirnya...
Kau butuh waktu menaklukan daya magis rasa itu.
rasa bertukar resah...
resah karena sadar jika engkau sedang mencintai orang yang kurang pantas dicintai...
tepatnya, dia akan menjadi pantas dicintai bila dengan cinta yang beda...
Segera kau mengerti, cintamu sarat risiko...
Terakhir kita bersua, kau cerita tanpa rasa,
sembari kau menertawakan daya magis rasa yang pernah menyiksa.
"Apakah aku kurang peka membaca isyarat kala itu?",
tanyaku sambil meneguk capuccino hangat episode akhir....
***
I dedicated it to my secret admirer..
Thanks for loving me ever...
pasti sempat kau tanya, Salahkah jatuh cinta kala itu?
TIDAK, jawabannya.
kita hanya dipertemukan pada masa yang kurang tepat,
momen yang salah ....
Tentu kau ingat sungguh, saat geloranya sedang memuncak...air mata jatuh tanpa alasan,,,,
tak jarang sedih mendera begitu cepat menggantikan gembira...
Kau mendadak perhatian pada hal-hal sepele...
sibuk memberikan nasihat-nasihat yang kurang perlu....
Kadang tampil maksimal menggantikan sosok ibu,
sang pemilik rahim yang pernah membentukku sembilan bulan ..
Semua ketulusan dalam mencinta senantiasa bertepuk sebelah tangan, akhirnya...
Kau butuh waktu menaklukan daya magis rasa itu.
rasa bertukar resah...
resah karena sadar jika engkau sedang mencintai orang yang kurang pantas dicintai...
tepatnya, dia akan menjadi pantas dicintai bila dengan cinta yang beda...
Segera kau mengerti, cintamu sarat risiko...
Terakhir kita bersua, kau cerita tanpa rasa,
sembari kau menertawakan daya magis rasa yang pernah menyiksa.
"Apakah aku kurang peka membaca isyarat kala itu?",
tanyaku sambil meneguk capuccino hangat episode akhir....
***
I dedicated it to my secret admirer..
Thanks for loving me ever...
Jumat, 20 September 2013
MENDIDIK DALAM BISU
Bukan kebetulan tentunya,
kita bertemu pada periuk yang selalu sama.
arena kita setiap waktu, menagih sesuap bekal.
Pria paruh usia, sedikit uban menghiasi mahkota kepala.
sesumbar senyum memikat.
Senyum keramahan....
saat jumpa,
mungkin orang berpikir, termasuk saya,
kita pernah bertemu sebelumnya...
Jika kutakar, mungkin hampir separuh jiwamu bertabur aura positif.
saya tak mudah mengujar tentangmu..
hanya decak kagum yang selalu terlontar...
"anda hebat ....!"
Sahabat...
Betapa kuidamkan saat di mana kita selalu bertemu..
berjumpa dalam tawa,
merangkul keakraban..
semua tau, kita kadang bercerita dalam diam,
saling mengerti dalam senyuman....
Saya sesalkan peristiwa yang merenggut lidahmu,
aku kecewa pada momen di mana kau mulai membisu..
entah kutukan apa yang mengaruskanmu diam...
Perjumpaan kita, kental dalam persaudaraan,
ramah akan persahabatan...
tak jarang adamu sebagai tuna rungu,
jadi tamparan keras buatku..
Tengok sekitarmu sahabat....,
masih banyak orang yang mampu berkata-kata,
tak sedikit insan yang bisa bercerita..
tapi kami irit memakai kata,
kami hemat mengumbar senyum,
kami merasa rugi jika menyapa...
kami lebih senang menggauli gadget murahan,
perangkat komunikatif yang sarat degradasi...
cerita dalam diam-mu,
keramahan dalam bisu-mu,
membuatku malu merayakan hidup..
hidupku bukan didedikasikan bagi sesama ,,
hidupku telah kuabdikan pada benda sarat defisit komunikasi...
***
Terima kasih sahabat, malam ini akan terasa indah
jika akhirnya kusyukuri perjumpaan senja tadi,
pada sumber bekal yang sama.....
kita bertemu pada periuk yang selalu sama.
arena kita setiap waktu, menagih sesuap bekal.
Pria paruh usia, sedikit uban menghiasi mahkota kepala.
sesumbar senyum memikat.
Senyum keramahan....
saat jumpa,
mungkin orang berpikir, termasuk saya,
kita pernah bertemu sebelumnya...
Jika kutakar, mungkin hampir separuh jiwamu bertabur aura positif.
saya tak mudah mengujar tentangmu..
hanya decak kagum yang selalu terlontar...
"anda hebat ....!"
Sahabat...
Betapa kuidamkan saat di mana kita selalu bertemu..
berjumpa dalam tawa,
merangkul keakraban..
semua tau, kita kadang bercerita dalam diam,
saling mengerti dalam senyuman....
Saya sesalkan peristiwa yang merenggut lidahmu,
aku kecewa pada momen di mana kau mulai membisu..
entah kutukan apa yang mengaruskanmu diam...
Perjumpaan kita, kental dalam persaudaraan,
ramah akan persahabatan...
tak jarang adamu sebagai tuna rungu,
jadi tamparan keras buatku..
Tengok sekitarmu sahabat....,
masih banyak orang yang mampu berkata-kata,
tak sedikit insan yang bisa bercerita..
tapi kami irit memakai kata,
kami hemat mengumbar senyum,
kami merasa rugi jika menyapa...
kami lebih senang menggauli gadget murahan,
perangkat komunikatif yang sarat degradasi...
cerita dalam diam-mu,
keramahan dalam bisu-mu,
membuatku malu merayakan hidup..
hidupku bukan didedikasikan bagi sesama ,,
hidupku telah kuabdikan pada benda sarat defisit komunikasi...
***
Terima kasih sahabat, malam ini akan terasa indah
jika akhirnya kusyukuri perjumpaan senja tadi,
pada sumber bekal yang sama.....
Langganan:
Postingan (Atom)


